Rabu, 21 Desember 2011

Jika Tuhan Bersenda-gurau (Resonansi-Miranda Risang Ayu)



Anda sedang jatuh cinta? Selamat. Mungkin, dedaunan tiba-tiba lebih hijau dari biasanya. Atau, tanpa sadar, diri Anda menjadi lebih bersinar. Jatuh cinta yang baik, kabarnya, membuat seseorang menjadi lebih hidup, lebih bersemangat, bahkan juga, lebih pengasih, lebih mudah memaafkan, dan lebih tegar menghadapi masalah.

Dalam perspektif positif, cinta, seperti pesan yang tersirat dalam doa agung sang Rasul ketika akan menikahkan putri kesayangannya, mengumpulkan semua yang terserak diantara dua subyek. Cinta menawarkan totalitas. Maka, dunia yang penuh warna bisa tiba-tiba menjadi jingga semua. Indah, bukan?
Tetapi dalam perspektif yang sebaliknya, cinta meniadakan warna lainnya. Ia menghanyutkan, menginfeksi kulit hingga saluran pernafasan, sampai ke ujung-ujung rambut yang tidak bersaraf. Ia membohongi kesadaran bahwa dunia itu hanya satu warna. Bagaimana jika tiba-tiba, orang yang paling dicintai itu mati? Bukankah kesiapan untuk sungguh-sungguh mencintai juga mensyaratkan kesiapan implisit untuk, suatu saat sungguh-sungguh kehilangan? Cinta, seperti juga ciptaan Tuhan lainnya, bukankah juga 'cuma' sebuah amanah yang bisa diambil lagi sewaktu-waktu, kapan saja Dia mau?
Lucunya, Tuhan telah lama mengajak manusia bercanda. Diciptakan-Nya pasangan yang membuat tenteram dalam diri manusia yang lain, hingga mau tidak mau, suka tidak suka, setiap manusia cenderung akan mencari belahan dirinya yang lain.
Sayangnya, Tuhan adalah Lex Divina yang tidak bisa diprotes. Lagipula, agaknya indah jika seorang manusia mau menanggapi canda-Nya, hingga nanti, di perjumpaan terakhir, Ia tidak murka, tetapi tersenyum dengan Agung-Nya.
Untuk niat ini, tampaknya, ada tiga cara spiritual yang bisa ditempuh. Pertama, secara sadar, menolak cinta. Arti paling harfiah dari cara ini, tentu adalah tidak mau jatuh cinta, atau secara ekstrem, tidak percaya dengan lembaga perkawinan, tetapi cara ini terlalu radikal dan serius hingga TUhan tidak suka. Kedua, mencinta dengan rasional. Karenanya, ada janji talak dalam surat kawin hingga perjanjian pembagian harta sebelum menikah, yang paling ekstrem, seseorang mencintai dengan perhitungan yang amat rasional, yakni dari bibit, bebet dan bobot-nya. Cara ini pasti tidak akan membuat-Nya murka, tetapi entah dimana senyum-Nya.
Cara ketiga, menjadi pecinta sesungguhnya.
Jika Tuhan bertanya, apakah Anda jatuh cinta, katakan saja 'Ya', tetapi itu hanya karena itu satu-satunya cara untuk menghikmati kehadiran-Nya.
Jika Tuhan menyuruh, menikahlah, katakan saja 'Ya', tetapi itu hanya dilakukan karena tak ada seorangpun yang sanggup menentang-Nya. Dan jika Tuhan bertanya lagi, sudahkah merasakan cinta yang sesungguhnya, katakan saja 'ya', tetapi iitu hanya senda-gurau saja karena hanya kehadiran-Nya yang akan mengabadikan semua.
Jika Tuhan bertanya, mabuk cintakah? katakan saja 'ya', tetapi segeralah juga minta agar yang tertuang adalah kebenaran_nya.

Resonansi-Miranda Risang Ayu
22 Maret 2002

Tidak ada komentar:

Posting Komentar