Wajahku memang tak secantik Dian Sastro
Kulitku tak semulus Ayu Ting Ting
Suaraku tak semerdu Agnes Monica
Tubuhku tak semolek Syahrini
Tapi...
Aku memiliki cinta
yang tulus hanya untukmu
dari hati
setulus hatiku
yang menerimamu apa adanya
Ku tak perlu intan berlian sebagai pembukti
Ku tak perlu kata-kata manis
Aku hanya ingin kau mengerti diriku
diriku yang rapuh
diriku yang lemah
diriku yang perempuan
perempuan yang ingin dimengerti
perempuan yang ingin dihargai
perempuan yang memiliki hati
yang mudah tersakiti...
please, jangan sakiti aku yach
jangan kau gores hatiku
walau setitik
Catatan Bunda
Rabu, 22 Februari 2012
Selasa, 14 Februari 2012
Aku mencintaimu
dengan kata yang tak terucap
dalam diam yang tak kau duga
Aku mencintaimu
dengan segenap rasa yang ada
dengan segala kelebihan dan kekuranganmu
Aku mencintaimu
saat rasa itu mulai tumbuh di hatiku
entah kapan
Aku mencintaimu
akan kujaga rasa ini
dalam indahnya kebersamaan
bersamamu
selamanya...:)
dengan kata yang tak terucap
dalam diam yang tak kau duga
Aku mencintaimu
dengan segenap rasa yang ada
dengan segala kelebihan dan kekuranganmu
Aku mencintaimu
saat rasa itu mulai tumbuh di hatiku
entah kapan
Aku mencintaimu
akan kujaga rasa ini
dalam indahnya kebersamaan
bersamamu
selamanya...:)
Kamis, 19 Januari 2012
Rabu, 21 Desember 2011
Jika Tuhan Bersenda-gurau (Resonansi-Miranda Risang Ayu)
Anda sedang jatuh cinta? Selamat. Mungkin, dedaunan tiba-tiba lebih hijau dari biasanya. Atau, tanpa sadar, diri Anda menjadi lebih bersinar. Jatuh cinta yang baik, kabarnya, membuat seseorang menjadi lebih hidup, lebih bersemangat, bahkan juga, lebih pengasih, lebih mudah memaafkan, dan lebih tegar menghadapi masalah.
Dalam perspektif positif, cinta, seperti pesan yang tersirat dalam doa agung sang Rasul ketika akan menikahkan putri kesayangannya, mengumpulkan semua yang terserak diantara dua subyek. Cinta menawarkan totalitas. Maka, dunia yang penuh warna bisa tiba-tiba menjadi jingga semua. Indah, bukan?
Tetapi dalam perspektif yang sebaliknya, cinta meniadakan warna lainnya. Ia menghanyutkan, menginfeksi kulit hingga saluran pernafasan, sampai ke ujung-ujung rambut yang tidak bersaraf. Ia membohongi kesadaran bahwa dunia itu hanya satu warna. Bagaimana jika tiba-tiba, orang yang paling dicintai itu mati? Bukankah kesiapan untuk sungguh-sungguh mencintai juga mensyaratkan kesiapan implisit untuk, suatu saat sungguh-sungguh kehilangan? Cinta, seperti juga ciptaan Tuhan lainnya, bukankah juga 'cuma' sebuah amanah yang bisa diambil lagi sewaktu-waktu, kapan saja Dia mau?
Lucunya, Tuhan telah lama mengajak manusia bercanda. Diciptakan-Nya pasangan yang membuat tenteram dalam diri manusia yang lain, hingga mau tidak mau, suka tidak suka, setiap manusia cenderung akan mencari belahan dirinya yang lain.
Sayangnya, Tuhan adalah Lex Divina yang tidak bisa diprotes. Lagipula, agaknya indah jika seorang manusia mau menanggapi canda-Nya, hingga nanti, di perjumpaan terakhir, Ia tidak murka, tetapi tersenyum dengan Agung-Nya.
Untuk niat ini, tampaknya, ada tiga cara spiritual yang bisa ditempuh. Pertama, secara sadar, menolak cinta. Arti paling harfiah dari cara ini, tentu adalah tidak mau jatuh cinta, atau secara ekstrem, tidak percaya dengan lembaga perkawinan, tetapi cara ini terlalu radikal dan serius hingga TUhan tidak suka. Kedua, mencinta dengan rasional. Karenanya, ada janji talak dalam surat kawin hingga perjanjian pembagian harta sebelum menikah, yang paling ekstrem, seseorang mencintai dengan perhitungan yang amat rasional, yakni dari bibit, bebet dan bobot-nya. Cara ini pasti tidak akan membuat-Nya murka, tetapi entah dimana senyum-Nya.
Cara ketiga, menjadi pecinta sesungguhnya.
Jika Tuhan bertanya, apakah Anda jatuh cinta, katakan saja 'Ya', tetapi itu hanya karena itu satu-satunya cara untuk menghikmati kehadiran-Nya.
Jika Tuhan menyuruh, menikahlah, katakan saja 'Ya', tetapi itu hanya dilakukan karena tak ada seorangpun yang sanggup menentang-Nya. Dan jika Tuhan bertanya lagi, sudahkah merasakan cinta yang sesungguhnya, katakan saja 'ya', tetapi iitu hanya senda-gurau saja karena hanya kehadiran-Nya yang akan mengabadikan semua.
Jika Tuhan bertanya, mabuk cintakah? katakan saja 'ya', tetapi segeralah juga minta agar yang tertuang adalah kebenaran_nya.
Resonansi-Miranda Risang Ayu
22 Maret 2002
Senin, 12 Desember 2011
Mission Impossible: Menulis Novel dalam 2 Minggu
Mission Impossible: Menulis Novel dalam 2 Minggu
Menulis novel 150 halaman dalam 2 minggu, sanggupkah?Kalau pernah menulis novel anak 50 halaman dalam 10 hari, kenapa tidak?Kalau pernah menulis apa saja 5 halaman sehari, kenapa tidak?Push harder, bisa kok.Dari 5 ke 10 kan nggak banyak nambahnya.April lalu, aku menulis novak 80 halaman 10 hari. Jadi kenapa tidak 150 dalam 15 hari. Nambah dua lagi saja per harinya.Lha, memangnya nggak punya kerjaan lain? Bagaimana membagi diri untuk tugas lain sebagai ibu atau istri?Ini yang kulakukan sebelum mulai menulis:
- Mengukur kekuatan. Biasanya kuat berapa halaman sehari? Akan lebih mudah kalau kita rutin menulis setiap harinya, berapa pun dapatnya. Satu-dua halaman rutin tiap hari lebih baik ketimbang 7 halaman seminggu yang nggak jelas perincian waktunya, alias ngikuti mood.
- Memperhitungkan target. Kapan deadline-nya, ada berapa hari kerja efektif, berapa jumlah halaman yang harus ditulis. Misalnya kita cuma punya 15 hari, target 45 halaman. Artinya per hari minimal 3 halaman.
- Aim high. Push harder. Setiap kali membuat target baru, tambahkan halamannya melebih target kerja sebelumnya. Dengan demikian, kita akan selalu tertantang. Sedikit under pressure, ada manfaatnya kok. Kalau kebiasaan cuma 1 hlm/hari tapi target menuntut 3 hlm/hari, berarti kita harus mencari cara untuk bisa bekerja lebih keras. Kreativitas orang terdesak biasanya meningkat. Hehehe.
- Apa yang harus kita tambahkan, jam kerja atau tenaga? Kalau kita menambah jam kerja, mungkin bisa deh sehari 3 halaman. Bangunlah lebih pagi, tambah jam kerja di malam hari. Kalau perlu tambahan tenaga, delegasikan beberapa pekerjaan kepada orang lain, agar kita bisa mengalihkan energi untuk projek di tangan.
- Bicarakan dengan keluarga. Tunjukkan kesungguhan dan keinginan menyelesaikan projek ini. Bicarakan jam kerja yang realistis. Mintalah dukungan penuh dari keluarga. Anak-anak bisa mengerti kalau diberi penjelasan, apalagi kalau kebutuhan mereka sendiri sudah terpenuhi.
Memulai menulis:
- Singkirkan gangguan, termasuk FB lho ya. Berfokuslah. Kegiatan yang tidak berkaitan dan bisa ditunda, tunda saja dulu. Jangan bela-belain ke bank, kalau memang nggak perlu sekarang. Percayakan anak atau pasangan mengurus tugas mereka sendiri.
- Buatlah jurnal harian. Hari ini, target berapa, tercapai berapa. Upayakan pencapaian melebihi atau mendekati target. Kalau kurang banyak, berarti ada yang salah dengan perhitungan kita.
- Soulmate, seperti suami/istri, sahabat, keluarga, bisa dimintai tolong untuk menyemangati. Silakan pasang status progress, karena dukungan teman-teman bisa membantu, tapi jangan berlama-lama mereply, nanti akhirnya jadi mengobrol.
- Jam kerja diperpanjang. Dalam kasusku, aku bangun pk.03.00, karena dini hari paling nyaman dan ampuh untuk menulis.
- Gunakan musik, kalau suka. Ngemil dikit, sekadar menghilangkan kantuk, bukan untuk menambah berat badan, kopi atau teh kalau biasa.
- Selagi menulis, sesekali berjalan-jalan keluar, hirup udara segar, gerakan badan.
- Telepon teman, mengobrol dengan manusia, kalau lagi stuck. (dengan peliharaan pun boleh kok. Membicarakan ide dengan siapa pun apa pun bisa membantu kita mengurai kekusutan. Walaupun yang diajak berbicara nggak bisa jawab)
Bekal yang membuat Mission Impossible ini menjadi possible:
- Kita sudah punya gambaran besar ide, tidak blank saat mulai menulis. Tapi tidak harus mendetail, karena dengan ide-ide dasar, karakter yang sudah dipikir masak-masak, cerita biasanya mengalir sendiri.
- Kita sudah melakukan riset kecil, seperlunya. Kalau waktunya panjang, riset bisa intensif dan ekstensif. Tetapi dengan waktu terbatas, riset tidak perlu berlebihan karena bahan terlalu banyak justru membingungkan. Dengan bahan riset seadanya, sambil jalan akan muncul apa yang kurang.
- Gunakan waktu luang (duduk di angkot, menyetir dan macet, atau mencuci, mengepel, bikin kue dll.) untuk memikirkan percakapan, karakter, plot dsb. Jadi waktu duduk lagi, sudah ada yang akan dituliskan.
- Sudah membiasakan menulis rutin dan memiliki target harian, bukan mengikuti mood. Kalau punya 1 jam, menulislah 1 jam/hari, kalau punya 20 menit, ya rutinkan. Bahkan 5 menit pun bisa menulis 2-3 kalimat. Ini akan lebih mudah untuk dipush.
- Banyak membaca. Sangat melancarkan menulis.
- Apa lagi? Hmm, usulan teman-teman untuk memberikan reward kepada diri sendiri setelah target tercapai, bagus sekali. Aku sendiri biasanya menghadiahi diriku dengan makan-makan dan jalan-jalan bareng keluarga. :)
Sementara ini saja dulu.Silakan kalau ada yang mau menambahkan.Salam kreatif.
Jumat, 09 Desember 2011
Rabu, 16 November 2011
Ungkapan cinta dari sahabat
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh
Teruntuk saudariku,
yang kami cintai karena Allah.
Kehidupan terus
bergulir, layaknya sebuah roda yang berputar. Semua yang ada selalu
berpasang-pasangan. Allah menciptakan datangnya siang dengan disusul datangnya
malam, di dalam kesenangan Allah pun memberikan kesusahan, dalam setiap yang
kita awali pastilah akan berakhir pada saatnya.
Begitu juga dengan
sebuah pertemuan akan ada perpisahan. Semua itu sudah merupakan sunnatullah
dalam kehidupan yang tidak mungkin kita pungkiri. Akan tetapi perpisahan itu
bukanlah akhir dari segalanya, mungkin ini adalah suatu awal yang baik untuk
lebih mengeratkan persaudaraan kita. Jangan jadikan jarak dan waktu menjadi
suatu penghalang bagi persaudaraan kita ini, karena itu kami tidak ingin ada
kata-kata selamat tinggal.
Saudariku yang
dirahmati Allah, tanpa terasa waktu bergulir begitu cepat, persaudaraan yang
kita jalani kian hari kian erat, ukhuwah yang kita rajut kian lama kian kokoh.
Dan kami sadar dalam jalinan persaudaraan ini, banyak sudah kekhilafan dan
kesalahan yang telah kami lakukan kepada kamu. Maafkan kami ya, karena kami
belum mampu untuk menjadi saudara yang baik bagi anti.
Pesan kami padamu:
“Jadilah
kamu seperti sekuntum bunga yang tumbuh di antara rumput ilalang, kehadiranmu
memberikan keindahan bagi sekelilingmu.”
“Jadilah
kamu seperti baja, yang kuat dan kokoh meski ujian menimpamu.”
Dari kami yang
menyayangimu
R dan W
Langganan:
Komentar (Atom)